PERTANGGUNGJAWABAN NOTARIS ATAS KETIDAKHADIRANNYA DALAM PENANDATANGANAN AKTA PERJANJIAN KREDIT

M Zahir Fikri

Abstract


 

Penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif yaitu dilakukan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam hal ini adalah Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 Jo Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan dan Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 Jo Undang-Undang No. 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris. Sifat penelitian ini adalah preskriptif analitis dimana penelitian ini berupaya untuk membandingkan beberapa pendapat/argumentasi hukum dari para ahli berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang perbankan dan jabatan Notaris

Perjanjian kredit dapat dilakukan dengan menggunakan akta di bawah tangan maupun dengan menggunakan akta otentik Notaris.Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh Notaris dalam pembuatan akta perjanjian kredit secara otentik sesuai ketentuan UUJN adalah Notaris wajib menyaksikan secara langsung penandatanganan akta perjanjian kredit tersebut oleh para pihak.Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana kewenangan dan kewajiban Notaris sebagai pejabat umum dalam pelaksanaan pembuatan akta perjanjian kredit, bagaimana akibat hukum terhadap akta perjanjian kredit yang tidak dihadiri oleh Notaris dalam penandatanganan akta.

Hasil pembahasan dari permasalahan yang timbul dalam penelitian ini adalah kewenangan dan kewajiban Notaris sebagai pejabat umum dalam pelaksanaan pembuatan akta perjanjian kredit didasarkan ketentuan Pasal 1868 KUH Perdata.Akibat hukum dari penandatanganan akta otentik perjanjian kredit yang dibuat oleh Notaris yang tidak dihadiri/disaksikan oleh Notaris adalah akta otentik tersebut menjadi terdegradasi sebagai akta di bawah tangan yang tidak lagi memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna bagi para pihak apabila terjadi sengketa di pengadilan di kemudian hari.

Kata Kunci : Pertanggungjawaban Notaris, Ketidakhadiran Penandatanganan Akta, Perjanjian Kredit.


Full Text:

PDF

References


Abdul Bari Azed.2012. Profesi Notaris sebagai Profesi Mulia. Jakarta: Media Ilmu.

Abdul Ghofur Anshori. 2015. Lembaga Kenotariatan Indonesia: Perspektif Hukum Dan Etika. Yogyakarta: UII Press.

F. Eka Sumarningsih. 2001. Peraturan Jabatan Notaris. Semarang : Diktat Kuliah Program Studi Notariat Fakultas Hukum Universitas Diponegoro.

Habib Adjie. 2012. Undang - Undang Jabatan Notaris (UUJN) sebagai Unifikasi Hukum Pengaturan Notaris. Bandung: Refika Aditama.

Mariam Darus Badrulzaman. 1991. Perjanjian Kredit Bank. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Muhammad Djumhana. 2016. Hukum Pebankan di Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Prof. Dr. Peter Mahmud Marzuki, S.H., M.S., LL. M. 2005. Penelitian Hukum. Jakarta : Kencana.

Rosnantiti Prayitno. 2008. Sejarah Lembaga Kenotariatan di Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.

Soerjono dan Sri Mamudji Soekanto. 2006. Penelitian Hukum Normatif Tinjauan Singkat, Jakarta: Rajawali Pers.

Soegondo R Notodisorjo. 2013. Hukum Notariat di Indonesia (Suatu Penjelasan). Jakarta: Raja Grafindo Persad. Soesanto, R. 2013. Tugas, Kewajiban, dan Hak-Hak Notaris, Wakil Notaris. Jakarta: Pradnya Paramita.

Sulhan, Irwanshar Lubis, Anhar Syahnel. 2018. Profesi Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah.Jakarta : Mitra Wacana Media.

Perundang-Undangan

Republik Indonesia. 2016. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris. Yogyakarta : Thafa Media.

Internet

http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/81ffbf991e4e6b6505b364118b970c24.pdf

http://digilib.unhas.ac.id/uploaded_files/temporary/DigitalCollection/YTQ3NWIyNDhjZjFjZDk2ZWZhODA5Njg3MzIyZDk1NDUwOWZkOWQ3NQ==.pdf


Refbacks

  • There are currently no refbacks.