PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA PAMEKASAN: ANALISA TERHADAP ALASAN DAN FAKTOR CERAI GUGAT PADA TAHUN 2019

Authors

  • Imam Hafas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.33474/an-natiq.v2i1.13979

Keywords:

divorce (contested divorce), factor, Islamic law, positive law.

Abstract

In the case of marriage, divorce become one of the indications that are able to damage the bond of marriage. The Religious court Pamekasan is the realm of the law in terms of finishing a case, one of them is a divorce case that in 3 years has increased significantly. Namely by the existence of reasons that cause the dominant as well as the factors that affect the attitude of the wife to initiate divorce (contested divorce) in Pamekasan?. The method in this research is qualitative, namely field research (field research) with the sociological approach. The use of primary data sources and secondary data collection through observation, interview, and documentation. Analysis of the data by the method of descriptive analysis of the wear groove of thinking inductive. The results of the study show that the divorce case is dominated by the quran and sunnah based on the reasons that dominate, namely the growth of disharmony in the form of disputes and quarrels which is motivated by several reasons, namely the absence of responsibility, the presence of third parties, and the presence of immoral actions and the presence of an arranged marriage or forced marriage and the increasing awareness of the women on a role and rights in the family setting and the response of the extension with carry out some activities, such as seminars in the form of guidance premarital counseling premarital, and the granting of understanding, either persuasive or through the assembly of the building that existed under the auspices of the religious educator.

References

Abdurrahman al-Jaziri. n.d. Kitab Al-Fiqhala Mazahib Al-Arb’ah. Kairo: Dar al-Fikr.

Abubakar, Muzakkir. (2020). “Meningkatnya Gugat Cerai Pada Mahkamah Syar’iyah.†Jurnal Ilmu Hukum 22 (2): 301–22. https://doi.org/https://doi.org/10.24815/kanun.v2212.16103.

Abuy Sodikin Badruzaman. (2000). Metodologi Studi Islam. Bandung: Tunas Nusantara.

Adi, Rianto. (2004). Metodelogi Penelitian Sosial Dan Hukum. Jakarta: Granit.

Al-Hamdani, H.S.A. (2002). Risalah Nikah (Hukum Perkawinan Islam. Jakarta: Pustaka Amani.

Albi Anggito & Johan Setiawan. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Sukabumi: CV. Jejak Publishet.

Aminuddin, Elang. (2018). “Angka Perceraian Di Kabupaten Pamekasan Terus Meningkat, Ini Penyebabnya.†Portal Indonesia. 2018. http://www.portalindonesia.net/read/5213/20180912/195137/angka-perceraian-di-kabupaten-pamekasan-terus-meningkat-ini-penyebabnya/

Arifin, Johar & Ahmad Mas’ari. (2017). “Tingginya Angka Cerai Gugat Di Pengadilan Agama Pekanbaru Dan Relevansinya Dengan Konsep Kesetaraan Gender.†Marwah: Jurnal Perempuan, Agama Dan Gender 16 (2): 141–55.

Aseri, Muhsin. (1974). Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Pustaka: Yayasan Peduli Anak Negeri (YPAN). Jakarta. https://doi.org/10.35931/aq.v0i0.57.

Ayyub, Syaikh Hasan. (2006). Fiqih Keluarga. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Bakhtiar, Handar Subhandi. (2014). “Pengertian Perceraian Dan Dasar Hukum Perceraian.†Researchgate. 2014. https://www.researchgate.net/publication/320557731.

Dahwadin, Muhamad Dani Somantri, Enceng Iip Syarifudin, and Sasa Sunarsa. (2018). Perceraian Dalam Sistem Hukum Di Indonesia. Wonosobo: Mangkubumi.

Dirjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung. (2017). “Jumlah Perceraian Di Indonesia 2014-2016.†Dirjen Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung. 2017. https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/jumlah-perceraian-di-indonesia-2014-2016.

Ghozali, Abdul Rahman. (2012). Fiqh Munakahat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Hadari Nawawi. (1993). Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Hadi, Sutrisno. (1995). Metodologi Research I. Yogyakarta: Andi offset.

Hasan, Mustofa. (2011). Pengantar Hukum Keluarga. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Hibatullah, Tharieq Akmal. (2018). “Tiga Provinsi Dengan Jumlah Perceraian Tertinggi.†Smart Legal. 2018. https://smartlegal.id/smarticle/layanan/2018/12/20/tiga-provinsi-dengan-jumlah-perceraian-tertinggi/.

Hidayatul Ma’unah, dkk. (2020). “Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Perceraian Karena Adanya Perselisihan Dan Pertengkaran (Studi Putusan Nomor: 0708/Pdt.G/2019/Pa.Bi).†Jurnal Bedah Hukum 4 (1): 1–14. https://ejournal.uby.ac.id/index.php/jbh/article/view/341.

J.J.H. Bruggink. (1996). Refleksi Tentang Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Joharni. 2010. “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tingginya Kasus Cerai Gugat Di Pengadilan Agama Bulukumba.†Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Kementerian Agama. (2019). “Jumlah Nikah, Talak Dan Cerai Di Provinsi Jawa Timur 2016-2018.†Kementerian Agama RI, Dirjen Bimas Islam, Mahkamah Agung, Dirjen Badan Peradilan Agama. 2019. https://jatim.bps.go.id/statictable/2019/10/11/1848/jumlah-nikah-talak-dan-cerai-di-provinsi-jawa-timur-2016-2018-.html.

Kurnia, Titon Slamet. (2009). Pengantar Sistem Hukum Indonesia. Bandung: PT. Alumni.

Kustiah Sunarty, Alimuddin Mahmud. (2016). Konseling Perkawinan Dan Keluarga. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.

Latief, Jamil. (1985). Aneka Hukum Perceraian Di Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Mahkamah Agung. (2019). “Perceraian.†Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia. 2019. https://putusan3.mahkamahagung.go.id/direktori/periode/tahunjenis/putus/kategori/perceraian.

———. (2019). “Perceraian.†Badan Pusat Statistik. 2019. https://www.bps.go.id/indikator/indikator/view_data_pub/3500.

Maimun, Mohammad Toha & Misbahul Arifin. (2018). “Fenomena Tingginya Angka Cerai-Gugat Dan Faktor Penyebabnya: Analisis Reflektif Atas Kasus-Kasus Perceraian Di Madura.†Islamuna: Jurnal Studi Islam 5 (2): 157–67.

Matondang, Armansyah. (2014). “Faktor-Faktor Yang Mengakibatkan Perceraian Dalam Perkawinan.†Jurnal Ilmu Pemerintahan Dan Sosial Politik UMA 2 (2): 141–50. http://ojs.uma.ac.id/index.php/jppuma.

Muhammad Syafiuddin, Dkk. (2014). Hukum Perceraian. Jakarta: Sinar Grafika.

Munawwir, Ahmad Warson. (1997). Al-Munawwar: Kamus Arab-Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progresif.

Noeng Muhadjir. (1996). Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sirasi.

Nuroniah, Wardah. (2016). Konstruksi Ushul Fikih Kompilasi Hukum Islam: Menelusuri Basis Pembaruan Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia. Edited by Zahrul Athriah. Tangerang: Cinta Buku Media.

Pengadilan Agama Pamekasan. (2019). “Dokumentasi.†Pamekasan.

Penyusun, Tim. (2016). Ketika Perempuan Bersikap: Tren Cerai Gugat Masyarakat Muslim. Edited by Ida Roosidah Kustini. Ed. 1, Cet. Jakarta: Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT).

Qomariah, Dede. (2019). “Persepsi Masyarakat Mengenai Kesetaraan Gender Dalam Keluarga.†Jurnal Cendekiawan Ilmiah PLS 4 (2): 52–58.

Rahmawaty, Anita. (2015). “Harmoni Dalam Keluarga Perempuan Karir: Upaya Mewujudkan Kesetaraan Dan Keadilan Gender Dalam Keluarga.†Palastren 8 (1): 1–34.

Rasid, Sulaiman. (1976). Fiqh Islam. Jakarta: At-Tahiriyah.

Rifqi, Ahmad. (2020). “Janda Muda Di Pamekasan Tembus 1.426 Jiwa.†Media Madura. 2020. https://mediamadura.com/2020/02/05/janda-muda-di-pamekasan-tembus-1-426-jiwa/.

Risa, Yulia. (2018). “Tinjauan Yuridis Faktor Penyebab Cerai Gugat Di Pengadilan Agama Kelas II Kota Solok Tahun 2017.†Lex Librum: Jurnal Ilmu Hukum 4 (2): 701–13. https://doi.org/http://doi.org/10.5281/zenodo.1286122.

Sahrani, H.M.A. Timahi & Sohari. (2013). Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap. Jakarta: Rajawali Press.

Satjipto. (1986). Ilmu Hukum. Bandung: Alumni.

Sekretariat Negara Republik Indonesia. (1975). “PP No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan,†22.

Soejadi. (1999). Pancasila Sebagai Sumber Tertib Hukum Indonesia. Jakarta: Lukman Offset.

Soemiyati. (1982). Hukum Perkawinan Islam Dan Undang-Undang Perkawinan. Yogyakarta: Liberty.

Subekti. (1985). Pokok-Pokok Hukum Perdata. Jakarta: PT. Internusa.

Sugiyono. (2001). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Suharsimi Arikunto. (1992). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Supardjaja, Komaria Emong. (2006). Hak-Hak Perempuan. Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Hukum dan HAM.

Telaumbanua, Dalinama. (2019). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun T974 Tentang Perkawinan. https://doi.org/10.31219/osf.io/8e6an.

Tim Penyusun PPPB. (1997). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Turangan, Doortje D. (2010). “Kekerasan Dalam Rumah Tangga Sebagai Alasan Perceraian.†Universitas Sam Ratulanggi.

Tutik, Titik Triwulan. (2008). Hukum Perdata Dalam Sistem Hukum Nasional. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Umi Cholidatul. M. (2019). “Krisis Moral Sebagai Penyebab Perceraian: Analisis Putusan Pengadilan Agama Kota Semarang.†Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/9691/.

Wahab, Muhammad Abdul. (2009). Fiqh Munakahat: Khitbah Nikah Dan Talak. Jakarta: AMZAH.

Zubaidah, Dwi Arini. (2020). “Disharmoni Keluarga: Tren Cerai Gugat Di Indonesia.†Jurnal Legitima 2 (2): 126–52.

Downloads

Published

2022-01-25

How to Cite

Hafas, I. (2022). PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA PAMEKASAN: ANALISA TERHADAP ALASAN DAN FAKTOR CERAI GUGAT PADA TAHUN 2019. An-Natiq Jurnal Kajian Islam Interdisipliner, 2(1), 9–24. https://doi.org/10.33474/an-natiq.v2i1.13979

Issue

Section

Articles