KOMPARASI KUALITAS SILASE HIJAUAN DENGAN FERMENTOR DAN TANPA FERMENTOR
DOI:
https://doi.org/10.33474/rekasatwa.v5i1.20260Keywords:
kualitas silase, hijauan, fermentorAbstract
Penelitian bertujuan untuk menganalisis secara organoleptik silase hijauan yang menggunakan fermentor dan tanpa menggunakan fermentor. Materi yang digunakan adalah hijauan gama umami, polar, mikroba fermentor, tetes tebu, coper, dan drum silo. Penelitian ini menggunakan metode percobaan dengan uji organoleptik / uji indra meliputi tekstur, warna, aroma dan pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus dengan 2 perlakuan silase yang berbeda. Didapatkan hasil bahwa perlakuan 1 yaitu silase yang tidak ditambahkan fermentor memiliki nilai tekstur = 5 (kurang lembut), warna = 5 (hijau kekuningan muda), aroma = 5 (kurang wangi dan bau rumput masih dominan), dan pH di angka 6 sedangkan pada perlakuan 2 silase yang ditambahkan fermentor memiliki nilai, tekstur = 10 (lembut), warna = 10 (kuning kecoklatan), aroma = 10 (wangi), dan pH di angka 4 (lebih asam dari perlakuan 1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa silase pada perlakuan satu dan dua dari segi warna kualitasnya sama sama sedang, dari segi aroma sama sama memiliki kualitas baik sekali, untuk tekstur kualitasnya sama sama baik sekali, dan untuk pH nya unggul diperlakuan satu dengan kualitas baik sekali dan pada perlakuan dua kualitasnya jelek. Disimpulkan bahwa silase yang ditambahkan fermentor hasilnya lebih baik.
References
Akbarillah, H., dan S, Marhamah. 2019. Kualitas nutrisi pakan konsentrat fermentasi berbasis bahan limbah ampas tahu dan ampas kelapa dengan komposisi yang berbeda serta tingkat akseptabilitas pada tenak kambing. Jurnal Sain Peternakan Indonesia. 14(2): 145-153.
Kurniawan, D., Erwanto, E. dan Fathul, F. 2015. Pengaruh penambahan berbagai starter pada pembuatan silase terhadap kualitas fisik dan ph silase ransum berbasis limbah pertanian. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu. 3(4): 191-195.
Gagliostoro, F. J. Santini, Abdelhadi, L, O. 2005. Corn silage or high moisture corn supplements for beef heifs grazing temperate pastures: effects on performance, ruminal fermentation and in situ pasture digestion. Anim. Feed Sci. Technol. 118: 63-78. DOI:10.1016/j.anifeedsci.2004.09.007.
Hanafi, N. D. 2008. Teknologi Pengawetan Pakan Ternak. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara: Medan.
Herlinae, H., Yemima, Y., dan Rumiasih, R. 2015. Pengaruh aditif em4 dan gula merah terhadap karakteristik silase rumput gajah (Pennisetum purpureum). Jurnal Ilmu Hewani Tropika. 4(1): 27-30.
Laharjo, S., K. Kastalani, dan H. Herlinae. 2022. Pengaruh berbagai tingkat konsentrasi aditif gula merah, EM4 (Effective Microorganism) dan dedak terhadap kualitas uji organoleptik silase jerami jagung. Jurnal Ilmu Hewani Tropika. 11(1): 22-26.
Nurhidajah, W., Hersoelistyorini, dan C. A. Wulandari. 2017. Pembuatan tepung gandung (Dioscorea hispidia Dennst) melalui proses perendaman menggunakan ekstrak kubis fermentasi. Prosiding Seminar Teknologi Pangan, Universitas Muhammadiyah Semarang. 423-430.
Sastrawidana, I. D. K., dan Wirawan, I. P. S. 2022. Edukasi dan introduksi pembuatan pakan biofermentasi bagi Bali Sari Desa Sepang, Buleleng, Bali. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia. 2(6):1691-1696.
Tintin, R., I. Z. Muhammad, dan L. Darabon. 2009. Pengaruh tingkat kadar air yang berbeda terhadap kualitas fermentasi silase ransum komplit berbahan baku lokal. Media Sain. 1(2): 194-202.
Wicaksana. 2018. Makalah Kualitas silase komplit berbasis limbah kulit jagung manis dengan berbagai tingkat penggunaan starbio. Universitas Udayana: Bali.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2023 Rafiul Ikhsan, Sri Susilowati, M. Farid Wadjdi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


_-_Copy1.jpg)